Boneka – bagian 2

“Nuh… Bunuh… Pembunuh… Pembunuh…,” suara bisikan boneka itu berayun-ayun di gendang telinga Alitia. Samar-samar awalnya, lalu semakin lama semakin memekakkan telinga.

Alitia berlari tanpa henti, melintasi pohon willow tempat Alicia tergeletak tanpa nyawa di bawahnya, bersama boneka itu. Terus, melintasi halaman, hingga ke hutan di belakang rumahnya. Alitia mengacuhkan ujung-ujung ranting semak yang melukai kedua lengannya saat ia menerobos semakin jauh ke hutan. Ia jatuh dan jatuh lagi tersandung juluran akar pepohonan yang menyembul di tanah. Apapun yang terjadi, ia akan terus berlari sampai suara itu berhenti menerornya.

“Alitia!” Sebuah tangan kokoh mencengkeram lengannya, menarik tubuh mungilnya tanpa ampun ke dalam kegelapan.

“Alitia… Alitia!”

Alitia terjaga sepenuhnya. Matanya yang nyalang dibasahi airmata, napasnya bersicepat dengan degupan jantungnya, dan sekujur tubuhnya berkeringat.

“Ssshhh… Sayang, Papa terbangun mendengar teriakanmu. Pasti mimpi yang sangat buruk ya?” Alitia membiarkan tubuh mungilnya tenggelam dalam pelukan Papa. Tempat yang aman.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Itu cuma mimpi…” Rasanya lama sekali Papa harus menenangkan Alitia sebelum akhirnya Alitia berhenti gemetar.

“Tidurlah kembali, Alitia. Besok kan upacara pemakaman Alicia. Alitia harus bangun pagi-pagi sekali. Ya?” kata Papa lembut, membenahi selimut Alitia.

“Ya, Papa…” Alitia melirik ranjang kosong di sebelahnya. Ranjang mahoni dengan ukuran, kanopi berenda warna salem, dan seprai yang sama seperti ranjang yang ditiduri Alitia. Ranjang milik Alicia.

Alitia membuang pandang ke arah lain, dan terbelalak ngeri mendapati Papa memegang boneka Alicia di tangannya. Percik-percik darah yang menodai pipi dan gaun boneka itu kini telah mengering, dan sekilas hanya tampak seperti noda kena tanah biasa. Tapi mata bundar, birunya menyorot Alitia dengan pandangan mengancam. Senyum boneka itu kini menyeramkan di mata Alitia.

“Tadi sore Pak Johnson memberikan boneka ini pada Papa. Ia menemukannya di bawah pohon willow. Alicia pasti ingin kamu yang merawat boneka cantik ini, iya kan? Nah, biar dia menemani tidurmu ya, Alitia.”

Papa memindahkan letak boneka itu ke dalam selimut Alitia, lalu mengecup dahi putrinya sebelum beranjak kembali ke kamarnya sendiri. Alitia bisa merasakan jemari tangannya mulai gemetar lagi. Begitu Papa pergi, Alitia berlari menuju jendela oval yang mengarah ke halaman belakang, membukanya lebar-lebar.

“Kau tak akan bisa menyingkirkanku, Pembunuh…” desis boneka Alicia. Rambut  ikalnya tergerai di sisi-sisi wajahnya seperti rambut ular dewi Medusa.

Alitia menghimpun seluruh keberaniannya untuk merenggut boneka itu dari atas bantal dan melemparkannya sejauh mungkin keluar jendela.

*

Boneka

Image

“Ini untuk Alicia,” Papa mengulurkan boneka bermata bulat itu, “Oleh-oleh dari Eropa.”

Boneka itu bermata biru. Bibirnya mengukir senyum anggun. Ia terbungkus dalam gaun pink berjahit renda-renda dengan topi lebar di rambut ikal pirangnya.

“Iiiih.. cantik!!! Terimakasih, Papa!”

Alitia menatap iri Alicia yang berbinar menerima boneka itu. Dibantingnya buku cerita bergambar yang baru diberikan Papa; oleh-oleh dari Eropa juga.

“Kok hadiah buat Alicia lebih bagus? Kenapa Papa tidak beli boneka juga buatku??” Alitia menghentakkan kaki. Poninya berantakan terjurai menutupi mata, tapi Alitia tak peduli.

“Tahun lalu Papa pernah kasih boneka Jepang buat Alitia, tapi Alitia tidak menjaganya baik-baik. Alitia menghilangkannya kan? Makanya sekarang Papa kasih hadiah lain.”

Alitia baru teringat pada boneka gadis berkimono yang entah kini ada di mana. Ia hanya berminat memainkannya beberapa hari saja, setelah itu bosan. Tapi tetap saja! Boneka Alicia lebih bagus dari boneka Jepangku dulu.

“Alicia, ayo tukar boneka itu dengan bukuku!” seru Alitia. Alicia justru memeluk bonekanya makin erat. Poni di dahi Alicia bergoyang-goyang saat ia menggeleng mantap.

“Tidak mau! Aku suka dia. Namanya Alicia, sama kayak namaku,” Alicia memutuskan untuk langsung menamai boneka cantiknya.

“Hiih! TUKAR!” Alitia menyerbu saudara kembarnya, berusaha merebut boneka itu. Alicia memekik, menjambak rambut Alitia, mempertahankan boneka miliknya.

Papa nyaris kewalahan melerai kedua putrinya. Gencatan senjata baru terjadi setelah Papa mengancam akan menarik kembali semua hadiah itu.

*

Sudah hampir seminggu Alitia mengacuhkan Alicia. Ia bergeming saat Alicia menawarkan sebatang cokelat. Juga saat Alicia mengajak ngobrol. Tidak juga saat Alicia hendak meminjamkan boneka itu padanya.

Meminjam? Apa asyiknya kalau boneka itu bukan milikku?

Alicia menatap bonekanya bingung, seperti minta pendapat.

“Kok Alitia marah sih sama kita? Memangnya siapa yang salah ya?” Alicia mengedikkan bahu, berbaring di atas permadani. Ia terus berbicara dengan bonekanya sampai jatuh tertidur.

Alitia mengintip dari balik pintu mahoni. Ia menyeringai, menikmati ekspresi kebingungan di wajah Alicia. Kembarannya itu terbangun dan tak mendapati boneka kesayangannya di sisi. Alitia membiarkannya mencari-cari di setiap sudut rumah, dan diam-diam membuntutinya berjalan ke halaman. Alicia meneliti setiap semak, kalau-kalau entah bagaimana ia lupa telah meninggalkan Alicia—bonekanya, di situ.

“Aliciaaa! Kamu di mana sih?” panggil Alicia sambil menegakkan punggungnya yang pegal karena kebanyakan membungkuk di semak-semak. “Ali…”

Pandangan Alicia tertumbuk pada sesuatu di atas sana, di dahan pohon willow. “Alicia!” Senyum Alicia rekah. Tapi ia ragu sejenak. Pohon itu begitu tinggi. Dahan terendahnya saja terletak hampir dua meter di atas tubuh mungilnya. Ia baru hendak memanggil Pak Johnson, tukang kebun keluarga mereka, untuk mengambilkan bonekanya, tapi langsung teringat bahwa lelaki setengah baya itu sedang membeli pupuk ke kota.

Hmm, mestinya ia minta tolong pada Alitia, yang jago memanjat.. tapi Alitia kan lagi ngambek.

Sudahlah. Aku bisa memanjatnya sendiri.

Alicia mulai bergerak memanjat pohon willow itu.

Hup. Alicia sampai juga di atas! Ia beringsut perlahan menuju ujung dahan tempat bonekanya bertengger. Sedikit lagi! Alicia mengulurkan tangan, dan berhasil menangkap ujung gaun bonekanya. Alicia tersenyum senang, tapi itu tak lama.

Tiga detik kemudian, dahan yang didudukinya berderak patah. Alicia bahkan tak sempat berteriak saat tubuhnya meluncur ke tanah.

Alitia terkesiap menyaksikan Alicia jatuh ke bawah. Kepalanya lah yang pertama kali menghantam tanah. Alitia tertatih menghampiri tubuh kembarannya yang tergeletak dalam posisi aneh. Genangan cairan gelap merembes di sekitar kepalanya. Kedua matanya terbuka, menampakkan ekspresi terkejut.

Boneka itu rebah di samping tubuh Alicia, tersenyum menatap Alitia. Percikan darah mengotori sebagian wajah dan gaunnya.

“Pembunuh.” Boneka itu berdesis.

*

Per Te, Ariana

“Hmm,” Roberto memutar-mutar cincin itu di tangannya, menelitinya dengan sorot penuh penilaian, “platina dengan tiga mata berlian. Seleramu bagus, Adras. Kujamin Ariana tak akan menolak lamaranmu.” Dia mengedipkan sebelah matanya.

Aku tertawa, pamit sambil melambaikan tangan. “Jangan lupa. Besok, jam delapan malam.”

“Pasti, il mio amico! Cassata terlezatku, untuk kalian berdua. Ci vediamo domani!

Kubiarkan pintu Soriano Trattoria menutup di belakangku. Kususuri trotoar sambil bersenandung.

La tua bellezza rivali non ha

Il cuore mio vuole soltanto te

 

Kecantikanmu tiada bandingannya

Hatiku hanya menginginkanmu seorang

Ariana, Ariana.

Namamu terpantul-pantul dalam benakku, gendang telingaku, dan terutama hatiku. Masih kuingat raut kusutmu terpampang di layar komputerku. Saat itu adalah salah satu momen pertengkaran kecil kita.

“Mana yang lebih kamu cintai? Aku atau Italiamu itu??” gugatmu gusar padaku. Sudah hampir setahun kita terpisah benua. Hanya saling sapa dan bertukar rasa di dunia maya. Kamu di Indonesia, aku di Italia. Aku memang jatuh hati pada negeri ini. Pastanya, menara Pisa-nya (yang kamu komentari dengan ketus sebagai menara nyaris roboh), dan tentu saja Amadeo Modigliani.

Alangkah beruntungnya aku bisa memandangi langsung Nu Assis sur un Divan, lukisan mahakarya Modigliani, di tanah kelahirannya!

“Aku betul-betul tak habis pikir, Dras. Kok ada orang yang mau beli lukisan itu sampai puluhan juta dolar? Isinya kan cuma gambar wanita setengah telanjang!” protesmu saat kukirimkan foto lukisan itu lewat surat elektronik.

Nu Assis sur un Divan

Nu Assis sur un Divan

Aku tergelak. Ah. Betapa ingin aku berdiri di depan lukisan ini, dengan jemarimu dalam genggamanku. Meski mungkin kamu akan mengomentari warna latarnya yang terlalu gelap, atau lirikan mata wanita dalam lukisan itu yang terlalu genit. Tapi kamu pasti akan bersabar menemaniku. Membiarkanku berdiam diri di sini, menyelami lukisan itu satu jam penuh.

L’Italia è bella, ma tu sei più bella, Ariana.

Italia memang cantik, tapi kamu lebih cantik, Ariana.

Katamu, mana yang lebih kusayangi? Kamu atau Italia? Tentu saja kamu. Always have. Always will.

Karena itu kubulatkan tekad untuk pulang ke Indonesia. Aku ingin mengajakmu ke Italia, berdua mengagumi kemegahan gereja Vatikan, lalu mampir sejenak untuk menyesap secangkir cappuccino dan mengulum seiris Cassata di beranda trattoria.

Image

Cassata Siciliana

Con te, con te avrò

Mille giorni di felicità

Mille notti di serenità

 

Denganmu, denganmu, akan kumiliki

Ribuan hari penuh kebahagiaan

Ribuan hari penuh kedamaian

Aku berlari-lari kecil menyeberangi jalan, menuju tempat mobilku terparkir.

Tuhan, aku belum pernah sebahagia ini! Besok. Aku akan meminangmu besok. Jika kamu bersedia menerima pinanganku, aku akan lebih bahagia lagi.

Langkahku belum lagi menjejak ke trotoar seberang ketika sesuatu menghantamku. Begitu cepat. Begitu keras. Tubuhku terseret laju roda mobil itu hingga beberapa ratus meter ke depan. Mobil itu berhenti, mundur lalu berputar balik dan terbirit-birit meninggalkan jasadku menggelepar di sana.

Di sela kesakitan yang sangat, kilas-kilas memori melintasi benakku. Pintu Soriano Trattoria yang menutup di belakangku. Cincin bertatah berlian, tersembunyi dalam bongkahan cantik Cassata. Secarik pesan yang kutulisi dengan tergesa-gesa: “Ariana Tirtacakra, maukah kamu menikah denganku?” Dan, kilasan terakhir sebelum kegelapan abadi merenggutku: senyummu.

Mi dispiace, Ariana…

Aku tak akan datang besok.

~end~

Lirik lagu: Per Te – Josh Groban  

Per Te                                     : untukmu

Il mio amico                        : kawanku

Ci vediamo domani           : sampai jumpa besok

Nu Assis sur un Divan      : duduk Telanjang di Sebuah Dipan

Mi dispiace                           : maafkan aku

Kepada: Aku di Masa Lalu

Kepada Ruri

di

Masa Lalu

 

Hei, ini aku. Ruri yang sudah dewasa, enambelas tahun lebih tua darimu. Kutulis surat ini untuk menghiburmu yang sedang berduka. Sekarang tanggal 22 Desember 1996 di duniamu kan? Hari itu, untuk pertama kalinya, kamu kehilangan orang yang kamu sayangi. Ayahmu, ayah kita: Bapak.

Ibu memang sudah menceritakan soal penyakit Bapak beberapa bulan sebelumnya. Kamu tak paham nama penyakit itu, tapi yang jelas terlalu parah untuk disembuhkan. Tak ada yang bisa diperbuat selain menunggu waktu sampai tubuhnya tak mampu bertahan lagi, lalu Bapak akan…

Ah.. Manakah yang lebih baik: A. Ditinggalkan mendadak, atau B. Mengetahui bahwa sebentar lagi kamu akan ditinggalkan? Waktu itu, kamu menebak; mungkin, mungkin pilihan kedua lebih baik. Setidaknya masih ada waktu untuk bersiap-siap. Bersiap untuk merelakan dia pergi.

Meski begitu, tiap malam saat kamu mulai memejamkan mata untuk tidur, kamu tak bisa mencegah ketakutan itu berbisik: “Apakah Bapak masih akan bersama kami esok hari?”

Dan hari ini—meski kamu belum juga siap berpisah dengannya, kamu menghadapinya dengan cukup tabah, menurutku. Ikut memandikan jenazahnya. Menyaksikan upacara pemakamannya. Mendoakan kedamaian dan pengampunan baginya. Berusaha keras—bahkan terlalu keras kadang-kadang—untuk membuatnya bangga, dengan cara apa saja yang kamu bisa.

Yah.. memang akan ada saat-saat di mana kamu sangat merindukan Bapak. Lelucon garingnya. Caranya mengajarimu pe-er matematika. Kebiasaannya minum teh hangat tiap pagi sebelum berangkat kerja. Ketekunannya mengutak-atik Vespa tua yang ia parkir halaman samping. Nasehat bijaknya.

Akan ada saat-saat di mana hanya seorang ayah yang mampu membuatmu merasa sebagai… putrinya yang istimewa. Sampai usiaku yang ke-28 ini pun, aku masih merasa begitu tentang dia.

Tapi, kamu tak boleh sedih terlalu lama. Kamu punya banyak kenangan bersama Bapak; semua tersusun rapi, menempati sudut hangat di hati. Kamu dan aku juga masih bisa mendaraskan rindu padanya, lewat doa-doa.

Kamu tak akan sendirian. Masih ada Ibu yang akan menjagamu. Masih ada Ibu yang harus kamu jaga. Kalian akan jadi tim hebat yang saling menguatkan. Akan ada airmata, tapi juga ada banyak tawa untuk kalian di tahun-tahun berikutnya.

Semua itu akan menempamu menjadi Ruri yang sekarang: aku. Hmm, sekedar bocoran nih. Kamu akan tumbuh menjadi wanita yang cukup keren, berusaha selalu taat pada Tuhan, taat hukum, tanpa seks bebas dan narkoba. Kamu juga akan bertemu pria baik super ganteng yang akan jadi suamimu (ssst, dia memang tak setampan MacGyver, tokoh idolamu sejak SD, tapi begitu kamu jatuh cinta padanya kamu akan mengerti betapa tampannya dia).

Kalau tak percaya, lihat saja enambelas tahun lagi sampai kau jadi aku ;-)

Memang sih, hidupku yang sekarang tak sempurna. Masih banyak mimpi yang belum bisa kuraih, tapi aku akan terus mengejarnya. Aku ingin membuat Bapak bangga padaku, selalu. Kuharap kamu juga begitu.

Be strong, girl. I know you can. I know you are.

Sampai jumpa di masa depan.

 

 

Salam,

 

Ruri.

 

untuk #ForYoungerMe

Bukan Untukku

running bride

Jas pengantinku terkulai di jok samping. Kemeja putihku lusuh dengan lengan tergulung sampai siku. Bahuku penat. Punggungku protes menuntut istirahat. Tapi mataku masih terus bergerak nyalang ke seluruh sudut jalan. Sudah berjam-jam aku bermobil menyusuri Yogya. Mencari jejak wanita yang semestinya tadi pagi jadi istriku: kamu.

Sebetulnya akad itu bisa saja berlangsung tanpamu, cukup aku dan ayahmu saja. Tapi kuputuskan menundanya.

Aku ingat beberapa pertemuan kita. Kamu selalu lebih banyak melamun, sesekali tergagap menanggapi obrolan para mak comblang kita. Bibirmu mengulas senyum, tapi sorot matamu muram seperti merpati yang terperangkap dalam sangkar.

Meski tahu kamu menjalani ini setengah hati—hanya demi patuh dan bakti pada orangtuamu, tapi aku yakin itu akan berubah seiring waktu. Kurasa trah, rupa, pendidikan, dan kekayaanku cukup untuk memenangkan kamu.

Tapi aku salah! Aku sama sekali tak menyangka, kamu yang kalem dan penurut bisa nekat kabur dari pernikahan yang tak kamu inginkan.

Enam jam sejak pelarianmu, aku mulai letih. Marah. Egoku terinjak-injak. Sisi mana dari diriku yang tidak layak untukmu? Jelas-jelas aku lebih segalanya dibanding Bayu, arjuna pilihanmu. Pria yang bahkan tak cukup bernyali untuk memperjuangkanmu di hadapan orangtuamu. Dengar, Hanum! Dengan rival sepengecut itu, aku tidak akan mengalah.

Sebuah taksi di depanku menepi. Mataku menangkap sosok seorang pria keluar dari mobil itu. Bayu! Rautnya kusut. Tubuhnya menghilang di balik pintu sebuah coffeeshop.

Magnolia, nama tempat itu.

Sebuah insting mendorongku untuk mengikuti Bayu. Mungkin saja dia tahu kemana kamu pergi.

Denting merdu bel terdengar saat kubuka pintu coffeeshop itu. Berjalan masuk, mataku mulai menyusuri dengan cepat meja demi meja. Ada dua sejoli backpacker dengan dua gelas yang telah kosong di meja—mereka bertukar tatap mesra sambil bersiap pergi. Di meja lain, seorang wanita termenung dengan piring besar berisi remah-remah cake coklat di depannya. Aku menepi sedikit, memberi jalan bagi dua pelanggan wanita yang hendak keluar dari tempat ini.

Ada keributan kecil di depan meja kasir. Seorang pria dan dua wanita yang sepertinya sedang bersitegang. Si pria jelas-jelas menggandeng seorang wanita, tapi mendadak wanita satunya mendekat, mencuri satu kecupan di bibir pria itu. Cinta segitiga? Ah, peduli amat. Aku punya drama sendiri yang harus kubereskan.

Mana Bayu? Nah, itu dia berjalan tergesa menuju sebuah meja di belakang.

Di sana, di sanalah kamu berada! Gaun pengantin masih melekatimu, lengkap dengan bunga mawar di jalinan rambutmu. Wajahmu sedikit tertunduk. Kamu risau? Menyesal sudah meninggalkanku di hari pernikahan kita?

“Hanum?” Kamu mendongak. Menatap tak percaya sosok tegap di hadapanmu.

“Bayu??” Seperti kembang api yang tersulut, kamu melompat berdiri dari kursi, tertawa sumringah dan melesat ke pelukannya.

Pelipisku berdenyut-denyut oleh deras aliran darah dalam pembuluhnya. Helaan nafasku bersicepat, saling memburu. Otakku penuh magma menggelegak yang harus dimuntahkan. Tanganku terkepal, menghimpun tenaga agar cukup untuk merobohkan lelaki pengecut itu dan merebut kembali apa yang mestinya milikku: kamu!

Tapi sesuatu menahan langkahku. Di bahunya, kamu tersenyum secerah matahari. Di matamu ada seribu binar yang baru kali itu kulihat. Kamu bukan lagi merpati yang terperangkap dalam sangkar. Kamu telah melayang bebas di antara gugus awan, bersama teman seperjalanan pilihanmu sendiri.

Golak cemburu di dadaku perlahan surut. Kekalahan ini harusnya menyesakkan, tapi entah kenapa terasa sedikit ringan. Mungkin karena senyummu. Kamu tak pernah bisa memahatnya seindah itu saat bersamaku. Kurasa ini bukan soal trah, rupa, pendidikan, dan kekayaan. Hanya saja, mungkin kamu bukan untukku. Sesederhana itu.

Maka kuhela nafas panjang, lalu berbalik diam-diam. Kuabaikan sapaan barista yang berdiri di balik counter, menanyakan apa kopi pesananku. Langkahku lurus saja, keluar dari tempat ini. Keluar dari kehidupanmu.

Semoga kalian bahagia.

 

~end~

 

buat para penulis The Coffeeshop Chronicles :)

Dari Hawa untuk Adam

finding soulmate

Dear Adam-ku,

Lagi-lagi aku ditanya, “Kapan menikah?”

Seperti yang sudah-sudah, cukup kusungging senyuman. Andai bisa, ingin benar kusodori mereka sehelai kartu undangan sebagai jawaban. Merah marun dengan tulisan keemasan. Di sana ada namaku, namamu, dan tanggal pernikahan kita.

Tapi sungguh, aku sama tidak tahunya seperti mereka. Aku bahkan belum melihat wajahmu. Belum mengenal namamu. Belum tahu di persimpangan takdir mana kita akan bertemu.

Setiap hari aku bertanya-tanya: yang manakah kamu di antara milyaran manusia? Kamukah lelaki yang berdiri bersisian denganku dalam lift pagi tadi? Atau, kamukah lelaki yang merelakan tempat duduknya untukku di kereta commuter line petang kemarin? Hmm, atau mungkinkah kamu lelaki yang menabrakku tanpa sengaja di suatu kafe akhir pekan lalu?

Setiap hari di benakku terlintas angan: bermacam karakter yang mungkin ada padamu. Kamu yang tersenyum dalam balutan pantalon, lengan kemejamu tergulung hingga siku: tenang, dewasa. Kamu yang tertawa lepas dalam t-shirt abu-abu, jaket Adidas dan sepatu basket: sportif, suka berkompetisi. Kamu yang menyeringai dalam kemeja flanel kotak-kotak, dengan celana jins belelmu berlubang di bagian lutut: keras kepala, pemberontak. Kamu yang mana? Muncullah untukku. Kalau perlu, kejutkan aku dengan fakta bahwa kamu sama sekali bukan salah satu dari tokoh-tokoh rekaanku itu.

Setiap hari aku meminta padaNya: “Jangan biarkan kami saling mencari satu sama lain terlalu lama. Pertemukan kami sebagaimana akhirnya Adam dan Hawa Kau pertemukan lagi di dunia.” Sambil menunggu doaku berjawab, akan kuteruskan pencarianku akan cinta. Sampai waktu perjumpaan kita tiba, akan kujadikan diriku wanita terbaik untuk kamu. Akan kupantaskan diri agar layak jadi tempat hatimu berlabuh. Satu-satunya Hawa bagimu.

Jadi.. Sampai ketemu suatu hari nanti, Adam-ku.

 

Yang masih terus mencarimu,

Hawa.

 

 

 

terinspirasi oleh tulisan @yuridistapp : Untukmu, Lelakiku

untuk semua wanita single yang sedang mencari pasangan jiwanya.

Pelangi di Kanvas Langit

rain

Sore mendung itu, deras hujan tumpah tiba-tiba. Mengejutkan rerumputan dan daun-daun yang kuyup seketika. Mengejutkan para pedagang kaki lima, yang terburu-buru menutupi dagangannya. Juga mengejutkan kita, yang tengah berkendara di atas motormu.

Lintang pukang kita berlari ke sebuah warung kopi sederhana, berteduh. Bangku sudah penuh oleh orang-orang yang memesan minuman penghangat badan, sekedar pengisi waktu sampai hujan reda. Kita berdiri di teras yang bernaungkan terpal. Kurapatkan punggung ke dinding, menghindari tempias hujan.

“Kamu sih! Kan aku sudah bilang kita naik taksi saja!” Aku melipat lenganku di dada.

“Kalau kamu tadi selesai berdandan dua jam lebih cepat, masih keburu kita naik taksi,” balasmu dengan mata terpicing padaku. Dingin dan tepat sasaran.

Kukatupkan bibir rapat-rapat. Aku memang salah, karena tadi terlalu lama memilih gaun. Terlalu lama mencocokkan tas dan sepatu mana yang serasi. Terlalu lama memutuskan warna lipstik apa yang bagus berpadu dengan pakaianku.

Bukan, ini bukan supaya aku jadi pusat perhatian di pesta pernikahan sahabat kita sore ini. Aku ingin tampil cantik untuk kamu. Jadi pusat perhatian di duniamu, sebagaimana kamu selalu jadi pusat duniaku.

Katamu, membelah lalu lintas Jakarta di Sabtu sore dengan taksi itu absurd. Macet di mana-mana. Maka, demi mengejar waktu kita bermotor. Menyelinap gesit di sela-sela bus dan sedan yang saling menjeritkan klakson. Sampai hujan yang menyebalkan ini turun dan membuyarkan rencana kita.

Senja merambat makin tua. Kita masih diam. Curah hujan masih riuh, belum lelah menjatuhi apa saja yang bisa dibasahinya.

“Kalau niat naik motor, setidaknya bawa jas hujan dong! Kalau begini kapan kita sampai di nikahannya Diandra?” semprotku,masih tak rela menjadi satu-satunya pihak bersalah.

“Tadi kan aku buru-buru! Memang awalnya nggak ada rencana naik motor kok! Mana sempat nyiapin jas hujan?? Kamu..” Nada tinggimu surut melihatku tertunduk. Kamu mencari mataku, dan menemukan embun menggenang di situ.

“Tukang ngambek yang cengeng..” godamu sambil tersenyum.

“Aku nggak nangis. Ini cuma air hujan,” kataku, membuang pandang darimu.

Kamu menghela nafas, kembali menegakkan badan. Tanpa sepatah kata pun, kamu ambil sebelah tanganku dan menjaganya dalam genggamanmu.

“Maaf,” ucapmu akhirnya.

“Maafkan aku juga…” balasku, masih tertunduk.

“Ah, lihat!” Dengan jemarimu yang bebas, kamu menunjuk ke suatu tempat. Aku mendongak, baru sadar bahwa tarian liar hujan telah menjinak berupa rinai-rinai kecil. Di kanvas langit yang kini berlapis mendung tipis, tampak samar sebentuk busur warna-warni. Mungkin Tuhan baru memulaskan kuas catnya di sana.

“Waaah, cantik!” kataku gembira. Aku selalu suka pelangi. Kamu tersenyum.

“Hujan sudah reda. Ayo berangkat!” Kamu menarik tanganku.

“Dengan penampilan begini?” Aku menatap sedih bayanganku di jendela kaca warung.

Rias wajahku berantakan. Maskara dan eyeliner-ku belepotan. Bedakku meluntur. Gaunku bernoda-noda coklat, terpercik kubangan air yang tadi kulewati. Sepatu high heels-ku bernasib sama malangnya.

Kamu menyeka sisa riasanku dengan saputangan. Mengaduk tasku sampai menemukan dompet kosmetik. Menyodorkanku pelembab bibir. Kuterima benda itu dan kupakai. Final check, kamu arahkan cermin kecil padaku.

Riasanku jadi jauh lebih minimalis, tak setebal tadi.

“Kamu lebih cantik begini,” kamu meyakinkanku, “sederhana seperti pelangi.”

“Hm..” Aku tersenyum lebar. “Yuk, berangkat!”

 

~end~

untuk #proyek27 :)

untuk @HyoOnline :)

Soto Koya

soto koya

“Soto koya?” Dahimu berkerut.

“Menu spesial untuk hari spesial.” Riang, kusendokkan semangkuk untukmu.

“Ini kan ulangtahun pernikahan kita! Mestinya kamu siapkan hidangan istimewa,” suaramu meninggi, “kalau kamu malas masak, kenapa nggak bilang? Kita bisa kok makan di restoran!”

Senyumku mendadak beku.

Seminggu lalu, seharian aku membongkar gudang demi menemukan resep lamaku. Susah payah aku mempraktekkannya berhari-hari hanya untuk gagal, gagal,dan gagal lagi. Semua masakanku berakhir di tempat sampah,karena aku yakin tak ada yang sudi menyantap produk apkiran. Entah berapa banyak makanan terbuang sebelum akhirnya aku berhasil meracik rasa yang kuharap kamu suka.

Semua itu untukmu. Di hari istimewa kita.

“Maaf kalau menurutmu soto koya kampungan, nggak istimewa. Biar kumakan sendiri!” kataku, membanting pantat ke kursi. Kuhentakkan segelas air ke atas meja. Kuguncang keras-keras botol berisi koya,sampai bubuk-bubuk malang itu berhamburan ke mangkukku. Lalu kumakan sotoku,sesuap demi sesuap. Mataku berkaca-kaca.

“Lho?Kok marah? Bukan begitu maksudku,” kamu menggaruk-garuk kepala. Suaramu melunak.

“Siapa yang marah? Kamu kali,” balasku sengit.

Hening, kecuali denting sendokku yang ribut beradu dengan mangkuk.

“Aku kan baru pulang, Sayang. Masa sudah dua minggu berjauhan,begitu ketemu langsung berantem?”

Huh. Kamu sih yang mulai duluan!

Lelah menungguku bicara, akhirnya kamu menyantap soto buatanku. Sesekali kamu melirikku, mengharapkan gencatan senjata.

Gimana? Kurang gurih? Hambar? Atau malah keasinan?

Dua sendok. Lima sendok. Sampai soto koyamu habis, tetap tak ada komentar. Dan aku masih terlalu dongkol untuk bertanya.

*

“Ini kan ulangtahun pernikahan kita! Mestinya kamu siapkan hidangan istimewa. Kalau kamu malas masak,kenapa nggak bilang? Kita bisa kok makan di restoran!”

Senyum cantikmu pudar. Wajahmu berubah kusut,dan mata bundarmu mulai berkabut. Aku langsung menyesal. Ah,kenapa tadi aku membentakmu seperti itu?

Sampai berjam-jam setelah makan malam, kamu masih mogok bercerita. Mogok tertawa. Duh, sepinya rumah kita, keluhku.

Karena kamu ngambek, aku bermaksud melewati sisa malam ini bersama Fast and Furious, game balap mobil kesukaanku. Ah, tapi kenapa wajahmu muncul terus di layar komputer? Aku tak bisa konsentrasi. Kusudahi permainanku.

Iseng, kubuka folder-mu. Kamu selalu melarangku melihatnya,karena di situlah kau simpan bermacam draft cerita yang belum selesai.

“Masih acak-acakan!” usirmu tiap kali kubilang aku ingin tahu.

Di antara sekian banyak file, ada satu berjudul ‘Tentang Kita’.

Kamu dan aku, Sayang?

Penasaran, kumasuki file itu. Aku terpana.

Ada ratusan e-mail yang pernah kukirim untukmu. Penggal-penggal percakapan kita di dunia maya, yang bahkan tak kuingat lagi kapan tepatnya. Foto-fotoku di kilang pengeboran minyak,berlatar samudra dan langit senja. Foto-foto kita dalam berbagai momen. Dari awal kisah kita dimulai dulu, sampai sekarang. Semua tersusun rapi, berurutan.

Tujuh tahun pernikahan, dan tak ada satu pun kenangan tentang kita yang kamu lewatkan.

Lalu mataku tertumbuk pada foto itu.

Samar,ingatanku melayang pada suatu siang yang cerah di masa lampau.

“Menikahlah denganku.”

Kamu tersedak jus jeruk karena kalimatku itu.

“Kamu melamarku sekarang? Di sini?” ucapmu,setelah batuk-batukmu reda.

Sebenarnya aku punya rencana yang sempurna. Makan malam romantis di restoran seafood, buket mawar, cincin berlian, alunan musik, suatu saat nanti kalau aku sudah benar-benar mapan.

Tapi entah kenapa di hari terik itu, di rumah makan sederhana itu, melihat kamu yang tertawa bersamaku, aku merasa harus mengatakannya segera.

Aku ingin melihat tawa itu setiap hari, untuk seterusnya.

“Aku serius. Menikahlah denganku,” kali ini kukatakan dengan mantap.

“…Aku mau,” jawabmu, menunduk tersipu. Pura-pura sibuk memainkan sendok di gelasmu.

Foto itu sedikit buram, hasil bidikan kamera ponsel lamamu. Di sana, aku dan kamu tersenyum dengan dua mangkuk makanan yang masih mengepul: soto koya pesanan kita.

“Menu spesial untuk hari spesial.”

 

~end~

Menikahlah Denganku

“Menikahlah denganku.”

Entah sudah berapa ratus kali aku berlatih mengucapkannya di depan cermin. Saat bercukur di kamar mandi, setiap pagi. Saat merapikan dasiku di toilet kantor. Bahkan saat menggosok gigi di malam hari, dengan mulut berlumur busa.

“Menikahlah denganku.”

Mestinya kukatakan itu padamu tiga tahun lalu, sebelum aku berangkat melanjutkan kuliah ke luar negeri. Mestinya kukatakan waktu kamu bilang, “Jadikan aku milikmu.”

Tapi waktu itu aku terlalu penakut. Takut uangku tak cukup banyak untuk membiayai kuliah magister, dan menghidupimu sekaligus. Takut kalau konsentrasiku harus terbagi buatmu. Takut kehadiranmu hanya akan menghalangiku menggapai mimpi-mimpiku.

“Menikahlah denganku.”

Alih-alih memintamu menikah denganku, aku malah meminta jeda. Jeda dari hubungan kita. Aku cuma tak ingin terbebani rindu, cemburu, atau prasangka yang bisa lahir dari sebuah kisah cinta jarak jauh. Biarlah kamu bebas jatuh cinta pada lelaki lain nantinya, kalau memang ada. Itu hakmu.

Walau kecewa, kamu turuti mauku. Setelah itu, kita tak pernah berjumpa. Hanya bertukar kabar lewat jenak-jenak percakapan di dunia maya. Sesekali saling berkirim foto dan cerita tentang bermacam momen yang kita lewati. Sendiri-sendiri.

“Menikahlah denganku.”

Tahukah kamu, sampai kini kalimat itu masih tertahan, berjejalan bersama rindu di hatiku? Sial, aku jadi korban taktik jeda yang kubuat sendiri! Sumpah, aku tak bisa jeda memikirkanmu. Baiklah, akan kusampaikan lamaran ini padamu suatu saat nanti. Pasti! Tapi tidak sekarang. Tidak lewat e-mail atau Skype. Tunggu aku, ya? Kamu mau kan?

*

“Menikahlah denganku.”

Tak lama lagi, aku akan sungguh-sungguh mengatakannya padamu. Ya, aku pulang, Sayang, ke Indonesia. Dan kuharap, ke hatimu juga. Dengan sumringah, aku berangkat ke rumahmu. Kamu mengundangku ke acara syukuran ulang tahunmu hari ini. Mau tahu hadiah kejutanku? Kotak itu tergenggam erat dalam saku celanaku. Isinya cincin platina bertatah berlian, yang akan kusematkan ke jarimu saat mengatakan dua kata ajaib itu.

“Menikahlah denganku.”

Kedua matamu membelalak, sama indah seperti dulu. Bibirmu membulat awalnya, lalu perlahan memahat senyum. Pipimu cantik oleh rona tersipu.

“Ya, aku mau,” jawabmu malu-malu, menatap cincin yang baru saja dilingkarkan ke jari manismu.

Belum pernah kamu sebahagia ini. Dan belum pernah aku sehancur ini.

Aku mengumpat diam-diam dengan hati pecah berantakan. Cincin platina itu masih terkepal kuat di tanganku.

Aku terlambat. Seorang pria lain telah melamarmu lebih dulu.

 

~end~

Sah!

Aku memejamkan mata. Berulang kali menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Perlahan kubuka mata. Menatap bayangan di cermin; lelaki lajang berusia akhir duapuluhan, dengan gaya rambut wet look, kacamata berbingkai hitam, serta setelan jas dan dasi. Dandy. Masalahnya cuma satu; tampangku masih sama senewennya seperti tadi.

Pernahkah kalian naik roller coaster? Kalian ingat seperti apa rasanya waktu berada di atas wahana itu, meluncur dari puncak tertinggi?

Perasaanku saat ini jauh lebih tegang lagi.

Kupandangi bayanganku seolah dialah penghulu yang akan kuhadapi satu jam lagi. Aku komat-kamit sendirian, merapal kalimat yang nanti harus kuucapkan di luar kepala. Jangan sampai akad nikah kacau gara-gara aku terlalu gugup untuk mengingat dialog bagianku!

“Mas Edwin! Ngapain bengong terus dari tadi?? Penghulu udah datang tuh!” Riana, adik bungsuku yang bawel, seperti biasa langsung menerobos masuk tanpa repot-repot mengetuk pintu.

“Aku grogi berat nih!” kataku sambil mengusap keringat di dahi.

Riana cuma nyengir. Sama sekali bukan respon yang menenangkan.

“Nggak perlu grogi. Kamu pasti bisa kok!” katanya.

Jadi sekarang saatnya?

Let’s go for it, Edwin!

*

Kurasakan ratusan pasang mata menatap kami. Khidmat menyimak satu janji suci yang sebentar lagi diikrarkan. Janji yang tak main-main, karena diucapkan atas nama Tuhan. Disaksikan manusia dan malaikat yang tak terlihat.

Kulirik Diandra, sang mempelai wanita, yang tertunduk sejak tadi. Mungkin dia sedang grogi juga. Tiba-tiba dia mengangkat wajah, dan matanya bertemu dengan tatapanku. Dia tersenyum. Cantik luar biasa dalam busana kebaya biru laut dan riasan sederhana.

Diandra, kamu bahagia kan?

Kami saling bertukar senyum sejenak. Keteganganku sedikit mengendur.

“Saya nikahkan Diandra binti Kusumaatmadja denganmu, dengan mahar perhiasan emas seberat duapuluh gram, dibayar tunai!” Suara ayah Diandra lantang, tegas. Suara yang telah menciutkan nyali banyak pemuda yang ingin meminang Diandra sebelumnya. Hanya ada satu pemuda yang cukup berani untuk meyakinkan ayah Diandra bahwa dialah orang yang tepat untuk menikahi Diandra.

Kukepalkan kedua tanganku yang dingin di bawah meja. Sebentar lagi giliranku. Sebentar lagi…

“Saya terima nikahnya Diandra binti Kusumaatmadja dengan mahar perhiasan emas seberat duapuluh gram, dibayar tunai!” Suara itu sedikit bergetar, tapi tetap berwibawa.

Lalu…

“Sah!!!” kata seorang saksi. Agak terlalu melengking, terlalu keras. Bahkan menyaingi suara ayah mempelai wanita. Saksi yang gugup setengah mati itu, aku.

Ya, aku. Edwin, kakaknya Diandra.

Haaaahhh! Selesai sudah! Aku berhasil melaksanakan tugasku dengan sempurna. Telapak tanganku tak lagi berkeringat. Jantungku yang sejak tadi berdebar gila-gilaan juga mulai tenang. Senyum lebar terulas di wajahku, tak lepas-lepas.

“Mas Edwin! Abangku yang ganteeeng, makasih ya udah bersedia jadi saksi pernikahanku,” Diandra berseru sambil memelukku. ”Ckk! Kamu.. baru jadi saksi akad nikah aja gugup gitu, Mas. Gimana nanti tuh, kalau kamu yang jadi mempelai prianya??”

 

~end~