“Nuh… Bunuh… Pembunuh… Pembunuh…,” suara bisikan boneka itu berayun-ayun di gendang telinga Alitia. Samar-samar awalnya, lalu semakin lama semakin memekakkan telinga.
Alitia berlari tanpa henti, melintasi pohon willow tempat Alicia tergeletak tanpa nyawa di bawahnya, bersama boneka itu. Terus, melintasi halaman, hingga ke hutan di belakang rumahnya. Alitia mengacuhkan ujung-ujung ranting semak yang melukai kedua lengannya saat ia menerobos semakin jauh ke hutan. Ia jatuh dan jatuh lagi tersandung juluran akar pepohonan yang menyembul di tanah. Apapun yang terjadi, ia akan terus berlari sampai suara itu berhenti menerornya.
“Alitia!” Sebuah tangan kokoh mencengkeram lengannya, menarik tubuh mungilnya tanpa ampun ke dalam kegelapan.
“Alitia… Alitia!”
Alitia terjaga sepenuhnya. Matanya yang nyalang dibasahi airmata, napasnya bersicepat dengan degupan jantungnya, dan sekujur tubuhnya berkeringat.
“Ssshhh… Sayang, Papa terbangun mendengar teriakanmu. Pasti mimpi yang sangat buruk ya?” Alitia membiarkan tubuh mungilnya tenggelam dalam pelukan Papa. Tempat yang aman.
“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Itu cuma mimpi…” Rasanya lama sekali Papa harus menenangkan Alitia sebelum akhirnya Alitia berhenti gemetar.
“Tidurlah kembali, Alitia. Besok kan upacara pemakaman Alicia. Alitia harus bangun pagi-pagi sekali. Ya?” kata Papa lembut, membenahi selimut Alitia.
“Ya, Papa…” Alitia melirik ranjang kosong di sebelahnya. Ranjang mahoni dengan ukuran, kanopi berenda warna salem, dan seprai yang sama seperti ranjang yang ditiduri Alitia. Ranjang milik Alicia.
Alitia membuang pandang ke arah lain, dan terbelalak ngeri mendapati Papa memegang boneka Alicia di tangannya. Percik-percik darah yang menodai pipi dan gaun boneka itu kini telah mengering, dan sekilas hanya tampak seperti noda kena tanah biasa. Tapi mata bundar, birunya menyorot Alitia dengan pandangan mengancam. Senyum boneka itu kini menyeramkan di mata Alitia.
“Tadi sore Pak Johnson memberikan boneka ini pada Papa. Ia menemukannya di bawah pohon willow. Alicia pasti ingin kamu yang merawat boneka cantik ini, iya kan? Nah, biar dia menemani tidurmu ya, Alitia.”
Papa memindahkan letak boneka itu ke dalam selimut Alitia, lalu mengecup dahi putrinya sebelum beranjak kembali ke kamarnya sendiri. Alitia bisa merasakan jemari tangannya mulai gemetar lagi. Begitu Papa pergi, Alitia berlari menuju jendela oval yang mengarah ke halaman belakang, membukanya lebar-lebar.
“Kau tak akan bisa menyingkirkanku, Pembunuh…” desis boneka Alicia. Rambut ikalnya tergerai di sisi-sisi wajahnya seperti rambut ular dewi Medusa.
Alitia menghimpun seluruh keberaniannya untuk merenggut boneka itu dari atas bantal dan melemparkannya sejauh mungkin keluar jendela.
*










